Sabtu, 28 November 2009 | 23.58
Secara etimologis nama Muhamaddiyah berasal dari kata “Muhammad”, yaitu nama Rasulullah SAW, dan diberi tambahan ya nisbah dan ta marbuthah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyyah menegaskan bahwa,”Muhammadiyyah bukanlah nama perempuan melainkan berarti umat Muhammad, pengikut Muhammad, Nabi Muhammad SAW utusan Tuhan yang penghabisan”.
(lagi…)
Kurban ( Qurbân ) memiliki arti dekat atau mendekatkan. Secara khusus istilah ini berarti penyembelihan binatang ternak pada hari raya Idul Adha atau tiga hari sesudahnya , yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Zulhijjah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika haji diyakini semua orang sebagai ritual yang paling kuat kontrol sosialnya daripada yang lain, tentu saja ini terjadi bukan secara kebetulan. Semua itu memang sengaja di-”manage” dan di-”setting” oleh Allah lantaran dua faktor. Pertama, haji merupakan ibadah yang membutuhkan ekstra kekuatan fisik dan materi.
Lebih dari 3.500 tahun lalu, Nabi Ibrahim berdoa di atas gurun tak berpenghuni agar Allah menggerakkan hati-hati manusia untuk datang mengunjungi Baitullah.
”Barangsiapa yang menunaikan haji dengan niat semata-mata karena Allah, tidak berkata kotor dan berbuat fasik, maka ia akan menjadi sosok suci seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya.” ( HR Bukhari )
Suatu ketika seorang ahli sufi, Ibrahim bin Adham, bermimpi, ada dua malaikat turun ke bumi dan berbincang. ”Tahun ini ada berapa orang jemaah yang hajinya diterima oleh Allah?” tanya salah satu malaikat kepada malaikat yang lain. Malaikat yang lain menjawab, ”Dari sekian ribu orang jemaah, tak satu pun yang diterima kecuali seseorang dari Damaskus bernama Muwaffaq.”
Beberapa tahun yang lalu, seorang ulama bercerita tentang pengalamannya pada waktu ibadah haji. Ia mendapat perlakuan buruk dari jemaah lain di sana. Ia menyadari bahwa itu sebagai balasan atas perlakuan buruknya yang pernah ia lakukan kepada orang lain .


