Oleh : Dr. A. Ilyas Ismail
Pada suatu hari, Umar bin al-Khathab, memergoki sahabat Mu’adz bin Jabal sedang menangis, dekat makam Rasulullah SAW. “Apa yang membuatmu menangis, hai Mu’adz? tanya Umar. Jawabnya, aku teringat baginda Rasulullah pernah berkata: “Sedikit riya adalah syirik. Siapa memusuhi kekasih Allah, Ia pasti memeranginya, dan Allah mencintai orang-orang takwa dan orang-orang yang menyembunyikan kebaikannya, yaitu orang-orang yang jauh dari popularitas, namun hati mereka bagaikan obor penerang.” ( HR Ibn Majah dan Baihaqi dari Umar bin Khathab ).
Puasa memang suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Tapi , sebenarnya kita membutuhkan puasa itu. Dalam surah Al-Baqarah ayat 183 tidak disebutkan siapa yang mewajibkannya. Tentu , kita tahu, Allah yang mewajibkannya. Perintah puasa itu dalam bentuk kalimat pasif, “diwajibkan atas kamu berpuasa”. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa puasa itu untuk kita dan kita membutuhkannnya. Siapa pun yang menyadari manfaat puasa, akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Untuk apa berpuasa ? Tentu bukan untuk berlapar-lapar atau berlemas-lemas. Ada tujuan mulia di balik itu.
















Recent Comments