Oleh : KH Didin Hafidhuddin
SEJATINYA seorang mukmin adalah seorang yang menyatu antara hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Tidak ada pertentangan antara yang satu dan lainnya. Karena memang keimanan itu adalah refleksi dan manifestasi dari makrifat atau kesadaran yang mendalam, yang terhunjam dalam hati sanubari dan terealisasikan melalui ucapan dan perbuatan.
Sikap ini seharusnya mencakup dalam semua aktivitas, baik pada waktu ibadah (mahdhah) maupun dalam melakukan kegiatan muamalah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS al-An’am (6): 162-163, yang masuk dalam doa Iftitah yang selalu dibaca saat kita melaksanakan shalat.

PARA sahabat sedang bercengkerama dengan Rasulullah SAW pada suatu sore yang cerah, tiba-tiba datanglah seorang pemuda dengan santun dan akrab bertanya kepada nabi tentang dasar-dasar ajaran Islam. Ia bertanya,”Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku apa yang dimaksud dengan iman ?” Nabi menjawab, ”Iman ialah bahwa engkau meyakini keberadaan Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab yang diturunkan Allah, para rasul Allah, meyakini akan terjadinya hari kiamat, dan meyakini adanya takdir”
















Recent Comments