Sorga dan Neraka di Bawah Telapak Kaki Ibu


Senin, 31 Agustus 2009 | 22:58

images31Beberapa bulan lalu ada sebuah tayangan televisi yang mempertontonkan seorang anak remaja perempuan mencuci kaki ibunya di sebuah baskom, kemudian airnya diminum. Saya tidak menonton sejak awal dan tidak mau menontonnya sampai akhir. Tayangan menyesatkan itu menggambarkan si anak perempuannya itu berbuat dosa kepada ibunya. Entah dosa apa, tapi tentunya mungkin suatu kesalahan yang dianggap berat oleh ibunya.

Si anak ini ingin memohon maaf kepada ibunya, tapi si ibu tampaknya keberatan untuk memaafkan, terjadilah adegan konyol itu. Perilaku semacam ini entah bagaimana bisa terjadi. Ada kemungkinan berawal dari pemahaman yang keliru terhadap hadits Nabi SAW. “Sorga di bawah telapak kaki ibu”, kata Rasulullah. Kata-kata Nabi itu kadang dikatakan sementara orang sebagai sebuah pepatah.

Ketika untuk pertama kali belajar ilmu pendidikan, guru saya mengatakan bahwa pendidik pertama dan utama adalah ibu. Mendidik anak menjadi kewajiban utama seorang ibu. Kewajiban itu tidak mungkin bisa digantikan oleh baby sitter, pembantu atau siapa pun. Namun, tentunya tidak semua ibu bisa berperan dengan baik sebagai pendidik anak-anaknya.

Sebagai seorang anak, berbakti kepada ibu merupakan kewajiban, melebihi kewajiban terhadap ayah, sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat. Sebaliknya seorang ibu yang bertanggung jawab sejak jauh-jauh hari harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendidik utama bagi anak-anaknya.

Sebagai seorang pendidik utama yang baik dan bertanggung jawab seorang ibu dapat mengantarkan anaknya untuk bisa mencapai sorga. Sebaliknya, ibu yang tidak berfungsi sebagai pendidik yang baik, bahkan memberikan contoh yang tidak layak sebagai seorang ibu, memiliki potensi untuk menjerumuskan anaknya ke neraka.

Rasulullah SAW melalui haditsnya itu sebenarnya memberikan amanah dan tanggung jawab yang besar kepada ibu untuk mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam , bukan memberikan kekuasaan kepada ibu untuk bisa mengatur anaknya sesuai keinginan pribadinya.

Barangkali ibu-ibu, atau calon ibu memiliki pendapat yang lain. Bagaimana ?

13 Comments (+add yours?)

  1. ILYAS AFSOH
    Sep 01, 2009 @ 16:42:49

    saya entah kenapa, melihat sinetron yang walau islami,

    sering gak setuju

    jauh dari nilai – nilai islam sesungguhnya

    Reply

  2. Sewa Projector Murah
    Sep 03, 2009 @ 12:56:48

    Perilaku diatas itu sangat tidak sesuai dengan ajaran islam,maka dari itu kita tidk boleh menyakiti hati orangtua kita terutama ibu kita karena beliau itu telah melainkan kita dengan penuh perjuangan

    Reply

  3. guskar
    Sep 04, 2009 @ 07:29:48

    tayangan itu saya pas melihatnya pak.. acara reality show gitu deh..
    yg bisa jd sdh didramatisir sedemikan rupa untuk mengaduk2 emosi penonton. saya sependapat bhw tindakan semacam ini keliru.
    ibu, yg selama 9 bulan mengandung kita dng penuh kasih sayang, mengorbankan ego-nya demi anaknya.. proses selanjutnya mendidik dan mengajari kita ttg kehidupan ini.., di sinilah mulai mengarah ke surga ataukah neraka

    Reply

    • ABDUL AZIZ
      Sep 04, 2009 @ 13:58:10

      Betul, mas. Saya setuju banget. Terima kasih sudah jalan-jalan ke sini. Insya Allah lain waktu saya mampir ke tempat mas. Semoga silaturahim kita terus berlanjut.

      Terima kasih.
      Salam buat keluarga.

      Reply

  4. ALIT TEN
    Sep 06, 2009 @ 01:49:50

    setuju ga sehrs~y Qta membsuh kaki~y , tp bhgiaknlah IBU

    Reply

  5. bundadontworry
    Sep 08, 2009 @ 05:39:11

    Sebagai seorang anak sekaligus juga ibu,saya dapat merasakan betapa dengan melihat anak2 tumbuh sehat saja sudah merupakan kebahagiaan yg luar biasa..
    Saya rasa dlm dunia nyata tdk ada ibu yg ingin menjerumuskan anaknya, apalagi dlm ajaran2 agama, krn ibulah yg pertama mengenalkan nilai2 hidup pd anak2nya.
    kadang2 sinetron suka berlebihan, malah kadang menjerumuskan,
    mungkin ini salah satu alasan saya tdk suka menonton sinetron.
    Semoga kita selalu menjadi anak yg berbakti pd kedua ortu kita,dan anak2 kita pun menjadi anak2 yg soleh dan solehah, amin.
    Salam.
    ——————————————

    Menurut guskar ( lihat komentnya di atas ) acara itu merupakan reality show yang didramatisasi. Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis tentang masalah ini. Apa lagi hadits ini sering dijadikan guyonan di televisi . Sebuah majalah bahkan pernah memuat kartun yang digambarkan ada seorang anak yang melihat telapak kaki ibunya untuk mencari sorga.
    Tentang peran ibu yang tidak berfungsi dengan benar sebenarnya pernah disampaikan oleh Prof. KH Ibrahim Hosen,LML, tahun 1994,sewaktu ia menjabat sebagai rektor IIQ dan ketua komisi fatwa MUI.
    Juga dua bulan sebelumnya, hal ini dikemukakan oleh Dr. Abdul Muhith Abdul Fatah, “kalau wanita meninggalkan fungsinya sebagai pendidik bagi anak-anaknya di rumah, maka generasi Islam mendatang tak sampai 50 tahun akan hancur.”
    Terima kasih banyak Bu atas masukannya, saya juga sangat mencitai ibunda yang telah berpulang puluhan tahun lalu, ketika saya masih kelas I SMP.
    Salam.

    Reply

  6. Desain Lansekap
    Sep 08, 2009 @ 08:54:40

    Bagaimanapun peran ibu sangat berperan bagi sang anak… jika memang benar memberi pelajaran maka niscaya anak tersebut menjadi anak yang baik… Tayangan seperti itu sudah banyak di TV ini seharusnya dikontrol bukan malah dipublikasikan…
    nice info Pak… Salam Kenal…
    Salam Sobat Lanskap
    ———————————————

    Betul Mas, saya setuju. Peran ibu memang sangat menentukan. Televisi di negeri kita ini sulit dikontrol . KPI saja tidak dihiraukan oleh mereka.
    Terima kasih Mas, sudah mampir di sini.

    Salam buat keluarga.

    Reply

  7. Abu Aufa's Weblog
    Nov 11, 2009 @ 20:06:31

    Sinetron sekarang banyak dibuat hanya utk mengeruk materi ketimbang menyesuaikan dengan ajaran islam yang benar..

    ——————————————————————–

    Begitulah Mas, bahkan judulnya seperti film Islami, tapi ceritanya menyimpang dari nilai-nilai Islam.
    Terima kasih.
    Salam.

    Reply

  8. Alipha
    Nov 11, 2009 @ 20:07:15

    Ibumu…Ibumu… Ibumu… 3 kali..

    ——————————————————————–

    Betul sekali , itu hadis Nabi SAW. Tapi tulisan ini konteksnya bukan ke sana.
    Silahkan baca tanggapan saya terhadap komentar bundadontworry di atas.
    Terima kasih atas kunjungannya.
    Salam.

    Reply

  9. achmad jaelani
    Aug 26, 2014 @ 08:35:03

    Menurut saya surga di telapak kaki ibu itu bukan pepatah melainkan bahasa kiasan.
    Kalau yg sudah tau maknanya pasti dia akan mengerti dari kata surga di telapak kaki ibu itu

    Reply

  10. JULAIDI SIREGAR
    Sep 22, 2014 @ 04:39:43

    Science is the most useful legacy in a life Science is more useful than treasure No one got lost because science while many people lost because of treasure

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IP
My Popularity (by popuri.us)
%d bloggers like this: