Persis Masa Depan


Oleh : LamLam Pahala
Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam

SABTU, 25 September 2010, pukul 11.05, Muktamar XIV Persis dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Muktamar yang mengangkat tema “Menegaskan Peran Persis dalam Menampilkan Wajah Islam sebagai Rahmatan lil Alamin” merupakan muktamar yang bersejarah bagi Persis. Sebab, selama puluhan kali, Muktamar XIV inilah yang dibuka secara resmi oleh kepala negara.

Tentu pula akan bersejarah sebab muktamar kali ini Persis menawarkan gagasan pemikiran Islam yang menarik dalam kancah wacana dan isu-isu global. Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan gagasan cerdas yang melihat persoalan-persoalan dunia tidak lagi dari sisi Persis yang terkesan Jawa Barat atau Indonesia saja. Tentunya, gagasan ini harus diterjemahkan dalam kerangka kinerja organisasi ke depan.

Bila dicermati secara analitis, sebenarnya kelahiran Persis lebih disebabkan dua faktor: faktor internal dan faktor eksternal. Dalam catatan Deliar Noer, faktor internal ini disebabkan munculnya konflik internal di tubuh al-Irsyad dan Jami’at Khair mengenai standar kehormatan kepada habaib keturunan Arab. Al-Irsyad yang diwakili oleh Ahmad Soerkati mengatakan bahwa penghormatan dalam Islam itu dilakukan dengan bentuk yang wajar dan tidak berlebihan, sebagaimana maunya Jami’at Khair.

Seiring dengan itu, friksi internal yang merasuki tubuh Sarekat Islam (SI) akibat paham komunisme membuat perpecahan tak terelakkan. SI ‘merah’ versus SI ‘putih’ stigma lazim yang muncul ke permukaan.

Faktor internal yang mengitari lahirnya Persis juga dipengaruhi oleh diskusi-diskusi antara Haji Zamzam dan Haji Muhamad Yunus dengan teman-teman kelompok diskusinya yang mengangkat isu-isu dan masalah-masalah agama yang dinukil dalam majalah al-Munir di Padang. Pemikiran-pemikiran keagamaannya yang cenderung “melawan arus” menjadi faktor tersendiri sehingga wajar jika kemudian dalam perjalanannya Persis condong untuk “melawan” dan tampil beda.

Faktor eksternal dipengaruhi secara signifikan oleh bacaan-bacaan di majalah al-Manar terbitan Mesir. Majalah yang dikelola oleh sang reformis Islam Muhamad Abduh dan Rasyid Ridha ini sering mengangkat isu-isu kemerdekaan negara-negara yang dijajah kolonialisme Barat. Di samping itu, diangkat pula isu-isu tentang pemikiran Islam yang menganut paradigma ‘kembali kepada Al-Quran dan Sunnah’. Kalau kita tarik ke belakang, gagasan ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari sosok legendaris Muhamad bin Abdul Wahhab at-Tamimi.

Abdul Wahhab secara tegas sering mengampanyekan gerakan kembali kepada Alquran dan sunah sekaligus mengkritik aspek sterilisasi keyakinan dari syirik dan tahayul serta bercampurnya ibadah dengan bid’ah. Pemikiran ini sangat mengilhami lahirnya Persis. Adalah wajar jika kemudian Persis getol mengopinikan ‘kembali kepada Al-Quran dan Sunnah’, mengoreksi sisi kemusyrikan, dan mengevaluasi cara ibadah yang berkolaborasi dengan bid’ah.

Namun, yang cukup menarik dari Persis adalah sisi nama, Persatuan Islam. Mengapa Persis menamakan diri dengan Persatuan Islam? Tidak seperti Ahmad Soerkati ketika mendirikan organisasinya dengan nama bahasa Arab, Al-Irsyad? Tidak seperti Ahmad Dahlan ketika mendirikan organisasinya dengan bahasa Arab, Muhammadiyah? Tidak seperti Hasyim Asy’ari ketika mendirikan organisasinya dengan bahasa Arab juga, Nahdlatul Ulama? Nama Persis dari Persatuan Islam mencerminkan bahwa Persis tidak hanya bernuansa keislaman, tetapi juga bernuansa keindonesiaan.

Latar belakang

Selain hal itu, penting pula dicermati bahwa ketegasan Persis dalam menyampaikan pesan keislaman sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok A Hassan, Moh Natsir, dan Isa Anshari. A Hassan merupakan ‘ideolog’ Persis, figur utama, dan bertanggung jawab atas orientasi khusus organisasi Persis. Sebenarnya, ia adalah warga Singapura keturunan India. Gaya yang ditampilkan A Hassan dalam mempertahankan kebenarannya cenderung mendebat, ke ujung mana pun ia akan kejar. Polemiknya terjadi dengan al-Ittihadul Islamiyyah Sukabumi, Majelis Ahlu Sunnah Bandung (1932), dan tokoh NU Cirebon KH Abul Khair (1936). Pandangan-pandangan A Hassan juga menyebabkan keretakan antara Persis dan Sarekat Islam (SI) tahun 1932. Saat bersamaan, perdebatan ia lakukan dengan tokoh-tokoh teras Ahmadiyah: Rahmat Ali, Abu Bakar Ayyub, dan Abdul Razak. Hasilnya, tokoh yang ketiga (Abdul Razak) bertobat dan mengundurkan diri dari Ahmadiyyah Qadiyan.

Demikian juga A Hassan melancarkan perdebatan dengan pihak Kristen, Seventh Day Adventist, mengenai kebenaran agama Kristen dan Bibel. Bahkan, A Hassan menulis sebuah buku Ketuhanan Yesus Menurut Bibel. Uniknya, buku tersebut bukan ditulis dari sudut pandang Al-Quran, melainkan berdasar Bibel.

Tokoh-tokoh pemikir Belanda pun tak ketinggalan ia ladeni, seperti Dierhuis, Eisink, dan Prof Schoemaker. Tokoh yang terakhir ini akhirnya insyaf dan masuk Islam serta menjadi sahabatnya. Tak ketinggalan dengan orang-orang ateis, seperti dengan Akhsan di Malang dan Suradul Mahatmanto di Jakarta (1950) mengenai topik eksistensi adanya Tuhan.

Presiden Soekarno pun tak luput ia dakwahi, bahkan terlibat polemik. Ketika Soekarno dibuang ke Endeh Flores (1930-an), A Hassan mengirim dan membalas surat kepada Soekarno yang menanyakan berbagai persoalan keagamaan. Kurang lebih ada sebelas surat-menyurat antara Soekarno dan A Hassan. Pengaruhnya, ketika mertuanya meninggal, Soekarno tidak tahlilan.

Namun, keharmonisan ini ‘retak’ saat Soekarno mengampanyekan nasionalisme melalui partai PNI. Bahkan, ketika Soekarno mengopinikan sekularisme, A Hassan dengan tanggap merespons dua wacana di atas yang menurutnya bertentangan dengan Islam masa Muhamad Natsir. Persis pun semakin mengemuka dalam pergaulan nasional. Melalui majalah Pembela Islam, ide-ide dan gagasan segar Natsir dituangkan dalam majalah tersebut demi menghadapi ancaman eksternal, baik ancaman Kristening Politik maupun kolonialisme, yang sama-sama mempunyai tujuan menggunting dalam lipatan kaum Muslim.

Pada saat yang sama, Natsir juga mengkritik pemikiran-pemikiran Soekarno yang selalu mengejek dan melecehkan Islam. Natsir yang merupakan murid terbaik A Hassan mampu melambungkan pemikiran-pemikiran Persis ke pentas nasional, mampu merekayasa, dan berdampak pada tatanan sosial masyarakat Indonesia. Bahkan kesuksesan intelektualitas.

Natsir mencapai puncaknya saat diangkat menjadi perdana menteri pertama dalam sejarah Indonesia. Penting disampaikan di sini bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, 1952) merupakan buah karya Natsir dengan gagasan “Mosi Integral Natsir”. Demikian juga ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia, Natsir-lah yang mendamaikannya dengan Teungku Abdurrahman dari Malaysia. Karena itu, sejarah ini dikenal dengan istilah Diplomasi Ukhuwah.

Beralih pada periode Isa Anshari, Persis semakin ‘garang’ dalam penampilan keagamaan dan merespons kondisi zaman yang ada. Karakternya keras dan antikompromi hingga membawa Persis pada jati diri yang sebenarnya. Pada era Isa Anshari ini, Persis melibatkan diri secara aktif dan semangat pada partai politik Masyumi. Sehingga, pemikiran-pemikiran Persis secara otomatis tersosialisasikan secara baik sekaligus keterlibatan ini menunjukkan eksistensi Persis semakin menanjak dalam percaturan politik nasional.

Dalam perjalanan aktivitasnya, energi Isa Anshari terkuras penuh. Posisinya sebagai ketua umum Persis (1953-1960), Masyumi Jawa Barat, dan aktivis Front Anti Komunis (FAK). Tenaga yang ia curahkan benar-benar ditunaikan demi kemajuan Islam. Karena wataknya keras dan kritis, sering kali banyak berurusan dengan pihak keamanan sampai secara sosial ia dikucilkan. Namun, perjuangan Islam lewat Persis pada masanya tidak mengenal menyerah. Pada akhirnya, banyak orang yang mengakui kebenaran Persis.

Proposisi ini terbukti dengan estafet kepemimpinan Persis oleh Ustaz E Abdurrahman, Latief Muchtar, dan Siddiq Amin. Ketiganya berlatar suku Sunda, terkesan ‘menggeser’ watak Persis yang tadinya tegas dan radikal menjadi cenderung luwes dan bijak

Masa depan

Persis akan tetap dipeluk oleh umat jika mampu menerjemahkan Islam dalam kerangka modernitas. Terlebih, Muktamar XIV yang mengusung gagasan Islam rahmatan lil alamin mengandung pesan bahwa Persis siap untuk mentransformasikan pemikiran keislamannya dalam kerangka global. Konsekuensinya Persis dituntut untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran cerdasnya terkait perdamaian dunia, global warming, climate change, ketahanan pangan dunia, terorisme, dan isu-isu mendunia lainnya.

Pola pengembangan haluan organisasi Persis ini merupakan tantangan baru bagi Persis. Ijtihad-ijtihad yang selama ini hanya ‘itu-itu juga’, ‘mengunyah’, tentu harus dikatrol ke arah yang lebih tinggi. Sehingga, diharapkan ke depan, Persis tidak hanya senang dengan isu-isu fikih mikronya. Wallahu a’lam.

ØØØ

Dari : Republika, Selasa, 28 September 2010

Cianjur, 28 September 2010 | 17 : 11

—————————————————————————————————

Tulisan terkait :


5 Comments (+add yours?)

  1. alamendah
    Sep 28, 2010 @ 18:57:00

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    sebagaimana ormas2 islam lainnya, persis memang kudu makin kreatif dalam mengukir masa depan

    Reply

  2. M Mursyid PW
    Sep 29, 2010 @ 18:32:30

    Semoga Persis dapat berkiprah lebih untuk kemaslahatan bangsa ini ya, Pak.

    Reply

  3. Trackback: Buah Amal Persis « Islam 4 All
  4. nuraeni
    Sep 27, 2011 @ 13:01:03

    semoga PERSIS akan leih baiklagi ke depannya….

    Reply

  5. ranjang tempat tidur
    Jun 18, 2012 @ 06:47:14

    artikel nya sangat berisi gan…
    lam kenal aj

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IP
My Popularity (by popuri.us)
%d bloggers like this: