Ideologi Takhta


Oleh : Dr. HAEDAR NASHIR

SIAPA meragukan keperkasaan Nabi Sulaiman? Dia Nabi sekaligus Raja digdaya, tetapi alim dan bijaksana. Tuhan menganugerahkan kepadanya kemampuan yang serba melampaui. Berbicara dengan binatang, menundukkan angin, menguasai bangsa jin, dan menaklukkan Ratu Bilqis. Banyak kisah yang khariq al-‘adat ( metarasional ) yang menyertai perjalanan hidup Nabi Sulaiman sebagai ibrah bagi umat manusia. Dia diberi kekuasaan dan istana yang megah, tetapi perhambaannya kepada Allah dan kebaikannya bagi umat manusia sangatlah utama.

Kekuasaan duniawi yang luar biasa tak pernah menjadikan Nabi Sulaiman sewenang-wenang, apalagi jauh dari Tuhan. Dia adalah hamba Allah yang utama sehingga Tuhan mengabadikannya lewat Al-Quran: “Dan Kami karuniakan kepada Daud seorang putra bernama Sulaiman, Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat: ( QS Shad: 30 ). Suatu kali Sulaiman berkata: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertian-pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dengan segala lakumu, maka Dia akan meluruskan jalanmu. Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, sedang engkau mampu melakukannya.”

Di ujung kehidupannya yang penuh kejayaan dan kebaikan, Nabi Sulaiman dalam usia 52 tahun sampai pada puncak kepasrahan untuk kembali ( irja’ ) kepada Tuhan. Dikisahkan al-Nuwairi ( Hilmi Ali Sya’ban, 2004: 136 ), Nabiyullah yang juga Raja ternama ini suatu hari menutup pintu istananya. Dia ingin bermunajat sepenuh hari kepada Allah seraya memerintahkan para pengawal istana agar tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan masuk. Dia ingin membersihkan diri dari segala keburukan dunia.

Tiba-tiba Nabi Sulaiman melihat seorang pemuda berwajah tampan dan berpakaian putih-putih datang menemuinya sambil menyapa: “Assalamualaikum, wahai Sulaiman!” Sulaiman menjawab: “Waalaikumsalam. Bagaimana kamu bisa masuk ke istana ini, padahal tidak satu orang pun diperbolehkan. Apakah penjaga istana tidak mencegahmu dan kenapa kamu tidak meminta izin kepadaku terlebih dulu?” Pemuda tak diundang itu menjawab tegas: “Tidak seorang pun dapat mencegahku memasuki istana ini, tidak pula pengawal istana. Aku tidak menginginkan kerajaanmu, tidak perlu pula meminta izin darimu.” Lalu, siapa yang mengizinkanmu,” tukas Sulaiman. “Tuhanmu yang mengizinkanku,” ujar si pemuda.

Nabi Sulaiman baru sadar bahwa yang datang itu sesungguhnya Malaikat Izrail. Pemuda yang tidak lain mlaikat pencabut nyawa itu berujar kepada Nabi Sulaiman: “Kamu boleh saja berharap bahwa pada hari ini kamu dapat membersihkan diri, hingga tidak ingin mendengar sesuatu hal buruk yang membuatmu terganggu. Tak sesuatu pun yang diciptakan di muka bumi ini kecuali atas kehendak Tuhanmu. Dan itu tak dapat diganggu gugat.” Sulaiman pasrah, lalu tibalah ajal sang Nabi yang juga Raja perkasa ini.

Memaknai kekuasaan

Nabi Sulaiman mengajarkan relativitas tentang kekuasaan sekaligus menggunakannya dengan kearifan, tanggung jawab, dan kemuliaan. Kendati menjadi nabi sekaligus raja, Sulaiman tetap Raja dan taat kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Takhta, lalu berbuat ihsan bagi kehidupan. Bahwa kekuasaan apa pun di dunia ini hanya amanah alias titipan Tuhan. Manusia tidak berhak mengambilnya secara absolut, apalagi menjalankannya dengan sewenang-wenang. Siapa pun yang sedang memegang tampuk kekuasaan, belajarlah untuk sering bertanya pada diri sendiri. Dari mana kekuasaan atau takhta yang digenggam itu diperoleh dan bagaimana serta untuk apa dipergunakan? Sebab, tak ada durian runtuh dalam kekuasaan di dunia ini. Tuhan tidak memberi hak istimewa kepada seseorang untuk berkuasa atas manusia lain, lebih-lebih secara mutlak.

Dalam alam pikiran demokrasi, tentu kekuasaan itu diperoleh dari mandat rakyat. Di luar sistem demokrasi, kita tidak tahu dari mana asalnya takhta itu berada di tangan. Bahkan, manakala kekuasaan itu diperoleh melalui institusi demokrasi, berhakkah mereka yang memperoleh mandat rakyat mempergunakannya sesuka hati atau sebaliknya tidak menjalankannya dengan sebaik-baiknya? Ini masalah substansial dalam hal takhta atau kekuasaan. Dunia ini dengan segala urusannya diberikan Tuhan untuk semua manusia, tidak untuk segelintir orang. Tidak ada yang berhak memonopoli atas kekuasaan duniawi di muka bumi ini.

Becerminlah pada kearifan dan kezuhudan Umar bin Khattab. Ketika dirinya didesak untuk siap dibaiat karena baru saja Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat, Umar dengan rendah hati menjawab: “Saudara-saudara, saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah, saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini.” Para sahabat dan kaum Muslimin kagum dan haru dengan sikap Umar itu, lebih-lebih setelah Umar melanjutkan ujarannya. “Ya Allah, aku ini sungguh keras dan kasar, maka lunakkanlah hatiku. Aku ini kikir, maka jadikanlah aku dermawan yang bermurah hati. Allah telah menguji kalian dengan aku, dan menguji aku dengan kalian ….” ( Haikal, 2001: 94 ).

Kita tidak tahu persis, mengapa orang-orang kini banyak berebut takhta atau kekuasaan dengan penuh ketegangan, bahkan saling ancam dan sikap serbaabsolut. Padahal, kekuasaan atau jabatan publik itu sesungguhnya amanah, ujian, dan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Apabila tak pandai-pandai menunaikannya, ia akan berubah menjadi beban, ujian, cobaan, musibah, fitnah, dan petaka.

Cyrus pernah mengingatkan Socrates dan Aristoteles yang terlalu memberi kemudahan sosok raja untuk berkuasa. Berkuasa itu mudah jika dilakukan dengan pengetahuan dan pertanggungjawaban. Bahkan, Xenophon dan Isocrates mengingatkan para elite Yunani Kuno tentang bahayanya kekuasaan bahwa demokrasi, ologarki, tirani, dan kerajaan atau monarki semuanya hancur jika tidak diperintah dengan tepat. ( Rowe & Schofield, 2001: 175 ).

Kekuasaan itu memang dahsyat dan dapat meracuni siapa pun karena di dalamnya terkandung pengaruh, otoritas, dan ideologi yang melanggengkannya. Bagi yang berkuasa akan terjangkiti racun mabuk kekuasaan, sebagaimana Raja Louis XIV yang dengan keangkuhannya berujar bahwa negara adalah aku. Fir’aun bahkan berani menyamakan dirinya dengan Tuhan. “Ana rabbakum al-‘ala” ( Akulah tuhanmu yang mahatinggi ).

Hampir semua raja, penguasa, dan siapa pun yang memperoleh mandat besar dalam kekuasaan dalam sepanjang sejarah, akhirnya bertekuk lutut pada takhta, lalu bertindak sewenang-wenang. Karena itu, Lord Acton menawarkan pembatasan kekuasaan karena, menurut dia, kekuasaan yang mutlak akan melahirkan kesewenang-wenangan, penyelewengan, dan penyimpangan yang sama mutlaknya. Oleh karenanya, jangan berikan seseorang atau institusi apa pun kekuasaan yang absolut. Berikanlah yang relatif dan dapat dikontrol.

Kekuasaan juga meninabobokan orang banyak ( rakyat ), lebih-lebih bagi masyarakat yang terlalu lama hidup dalam budaya dan hegemoni kekuasaan yang absolut. Rakyat yang sehari-hari hidup dalam budaya sabda pandhita ratu ( hidup dalam hegemoni titah raja ) atau dalam pangkuan kekuasaan absolut apa pun, biasanya menjelma menjadi abdi dalem ( hamba ) yang lemah secara politik dan budaya.

Fir’aun, Louis XIV, Hitler, Mussolini, dan para tiran lainnya di muka bumi ini, biasanya menciptakan ideologi hegemoni untuk melanggengkan kekuasaannya. Kekuasaan ketika sudah menjelma dalam banyak kepentingan yang lama, akan cenderung dilanggengkan, baik oleh yang berkuasa maupun oleh kelompok rakyat yang dikuasai-betapa pun sengsaranya hidup rakyat yang menjadi objek kekuasaan.

Kenapa rakyat yang tidak memiliki kekuasaan ( powerless ) tampak mudah menerima atau tak berdaya dengan mereka yang berkuasa ( powerfull ), lalu menjadi hamba yang serbataklid-buta? Antonio Gramsci mengatakan, karena kekuasaan dan sang penguasa mampu menciptakan ideologi hegemoni kepada orang banyak yang dikuasai sehingga rakyat atau orang banyak itu nikmat hidup dalam cengkeraman kekuasaan yang berkuasa. Lalu, lahirlah para true believer ( pengikut buta ) dalam relasi kekuasaan yang telanjur sudah digenggam lama, apakah hal itu baik ataupun buruk.

Akhirnya, penguasa dan rakyat yang dikuasai sama-sama menikmati status quo kekuasaan sekaligus takut kehilangan. Itulah ideologi takhta, yang sering dilenggengkan dan didaur ulang dalam sejarah sangkar besi kekuasaan.

ØØØ

Dari : Refleksi Republika, Ahad, 19 Desember 2010

Cianjur, 19 Desember 2010 | 17:23

36 Comments (+add yours?)

  1. tips beli rumah
    Dec 20, 2010 @ 20:54:39

    aku cukup terkesan membaca tulisan ini,..

    Reply

  2. sedjatee
    Dec 21, 2010 @ 12:29:41

    banyak contoh terpuji dalam menyikapi takhta
    semoga bisa menjadi inspirasi para penguasa hari ini
    salam sukses..

    sedj

    Reply

  3. Blog Keluarga
    Dec 22, 2010 @ 06:53:08

    Taklid Buta, Seperti apa ya maksudnya Pak… Apakah selalu menurut tanpa ada perlawanan???

    —————————————————

    Taklid buta adalah sikap seseorang yang tanpa bersikap kritis mengikuti pendapat dan pemikiran orang lain apa adanya. Ia mengikutinya tanpa mempertanyakan validitas atau kesahihan pemikiran, sikap, dan perilaku orang tersebut.

    Terima kasih.
    Salam

    Reply

  4. isi web id
    Dec 23, 2010 @ 03:54:35

    mantab artikelnya
    salam kenal ^_^

    Reply

  5. Keping Hidup
    Dec 26, 2010 @ 11:43:26

    Assalamualaikum ww terima kasih pak Abdul Aziz banyak hikmah yang dapat diambil dalam tulisan ini.. salam saya pak..

    Reply

  6. dira
    Dec 28, 2010 @ 13:11:10

    Kisah nubuwat dan para salaf memang membuat kita berdecak kagum, membayangkang keluhuran akhlak mereka yang sulit ditemukan pada akhir jaman ini.
    Makasih atas kisahnya yg bermanfaat..

    Reply

  7. Ngajari
    Dec 28, 2010 @ 15:35:02

    thanks infonya..
    sangat bermanfaat buat orang yang masih awam kek saya🙂

    Reply

  8. Kumpulan Hot Threads Kaskus
    Dec 29, 2010 @ 17:43:09

    waktu kecil senang banget cerita nabi2🙂
    btw salam kenal bos.
    kalo berkenan kita tukeran link yuk🙂

    Reply

  9. nurhayadi
    Jan 03, 2011 @ 04:36:54

    Semua ada masanya

    Reply

  10. teguhsasmitosdp1
    Jan 03, 2011 @ 21:46:36

    Terima kasih Bapak atas pencerahannya,…sangat memotifasi .

    Reply

  11. rakha'
    Jan 05, 2011 @ 12:25:32

    Assalamu’alaikum wr.wb. Salam kenal. Andaisaja para pemimpin di negeri ini seperti Nabi Sulaeman, pasti negeri ini akan tentram dan damai. Jangan lupa mampir ke blog saya, Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Reply

  12. pututik
    Jan 13, 2011 @ 12:00:00

    contoh-contoh mulia ini harusnya jadi panutan pemimpin maupun warga negara kita, semua masih mengunggulkan nafsunya.

    Reply

  13. wahyu w
    Jan 14, 2011 @ 07:36:35

    sementara saya baca2 dulu aja, numpang nambah ilmu pak….

    Reply

  14. nurrahman
    Jan 14, 2011 @ 19:47:38

    barangkali memang orang2 berebut tahta demia sebuah kebanggaan, sebuah nilai, yg mana nilai sesungguhnya telah terkikis pelan2

    Reply

  15. pulsa murah
    Jan 18, 2011 @ 10:57:00

    terimaksih pencerahan hatinya pak

    Reply

  16. abifasya
    Jan 18, 2011 @ 17:26:51

    nudiaos muing judulna wungkul, tos kabayhang seremna maos judulna wungkul oge, margi kaayaan zaman kiwari tos kiti ayeuna, upami kang abdaz menyuarakan islam 4 all, dina dunia ideologi utamina politik rupina geus kirang pajeng margi seuseueurna mah ideologi takhta.

    Reply

  17. yusuf
    Jan 23, 2011 @ 20:08:29

    Jika penguasa negeri ini bisa mencontoh kearifan nabi Sulaiman alangkah bahagianya rakyat ini.

    semoga tulisan diatas menjadi sumber hikmah bagi semua orang yang membacanya.

    Reply

  18. rooteye
    Jan 23, 2011 @ 20:09:46

    Semoga bermanfaat bagi umat

    Reply

  19. indra1082
    Jan 25, 2011 @ 10:08:17

    Subhanallah, semoga bermanfaat….🙂

    Reply

  20. Wati
    Feb 09, 2011 @ 13:54:02

    Semoga kisah kearifan nabi Sulaiman menginpirasi para pemimpin kita.

    Reply

  21. oghello
    Mar 17, 2011 @ 23:34:02

    sayangx penguasa kt jauh dari yg dcontohkan nabi Sulaiman

    Reply

  22. Budi Darmawan
    Apr 24, 2011 @ 05:49:34

    Assalamu’alaikum, WR. WB…
    Salam perkenalan untuk pak Abdaz, kapan2 singgah ke blog saya…🙂

    Reply

  23. Robuster
    Apr 30, 2011 @ 09:09:08

    Jika penguasa negeri ini bisa mencontoh kearifan nabi Sulaiman alangkah bahagianya rakyat ini.

    semoga tulisan diatas menjadi sumber hikmah bagi semua orang yang membacanya.

    Reply

  24. nuraeni
    Sep 27, 2011 @ 12:26:29

    Ideologi takhta,,,

    semoga yang menjadi penguasa negeri ini akan selalu bijaksana…

    Reply

  25. nur faizin
    Oct 10, 2011 @ 10:39:38

    berarti sikap seperti itu harus kita hilangkan dari diri kita ya ,,,????, untuk kebaikan kita bersama,,,,,

    Reply

  26. meubel
    Apr 06, 2012 @ 02:01:45

    posting yang mengesankan sekali gan,,,thanks

    Reply

  27. Indojati furniture
    Apr 26, 2012 @ 23:23:59

    mantap gan critanya, semoga kita para pembaca bisa memetik hikmah dari inti critanya. makasih

    Reply

  28. Agen Bola Terpercaya
    Apr 08, 2014 @ 08:57:46

    Mantap ceritanya gan.. oh nya Dukung Jokowi Pilpres…setuju..

    Reply

  29. cara mengobati sakit pinggang
    Nov 26, 2014 @ 11:19:23

    menarik sekali pendapatnya

    Reply

  30. cara mengobati nyeri otot
    Jan 12, 2015 @ 14:11:58

    kunjungan siang keren ideologinya

    Reply

  31. cara mengobati radang sendi
    Apr 08, 2015 @ 08:39:26

    keren informasinya dan bermanfaat sekali

    Reply

  32. Urat Madu
    Apr 28, 2015 @ 11:17:22

    ijin menyimak dulu artikelnya

    Reply

  33. elfan
    Apr 29, 2015 @ 09:52:13

    KHALIFAH ATAU PENGUASA: PEWARIS UTAMA DARI MISI KENABIAN MUHAMMAD SAW

    Bagian 1 dari ketiga tulisan

    Pengertian khalifah (1): Manusia pertama dan kepala keluarga

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang KHALIFAH di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orangyang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. 2:30)

    Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (ajaran) dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. 2:37).

    Maka kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka (QS. 20:117).

    Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut (cerita) yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia (yang kurban tidak diterima) berkata: “Aku pasti membunuhmu!” Berkata (yang kurbannya diterima): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. 5:27).

    Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani (keturunan) Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS. 36:60).

    Kesimpulan: Pengertian dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Adam As dianugerah sebagai khaliaf dalam arti sebagai manusia pertama dan kepala keluarga dan tidak ada dinyatakan sebagai nabi dan apalagi sebagai rasul karena memang misi beliau murni buat keluarga kandung dan anak cucunya dan keturunan-keturunan atau Bani Adam berikutnya setelah kelak berkembang biak.

    Reply

  34. elfan
    Apr 29, 2015 @ 09:54:08

    KHALIFAH ATAU PENGUASA: PEWARIS UTAMA DARI MISI KENABIAN MUHAMMAD SAW

    Bagian 2 dari tiga tulisan

    Pengertian khalifah (2): Penguasa Pertama dan Nabi juga Rasul

    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu (sebaga) KHALIFAH (penguasa pertama) di muka bumi, maka berilah keputusan (atas perkara) di antara manusia (rakyatmu) dengan ADIL dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (QS. 38:26).

    Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu (dan keahlian atau teknokrat) kepada Daud dan Sulaiman; dan (lalu) keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman” (QS. 27:15).

    Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu (QS. 21:78)

    maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan (memahami) hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih (berpartisipasi) bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya (QS. 21:79).

    Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus (QS. 38:22)

    Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu (melawan tentara Jalut); Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah) (QS. 21:80).

    Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) DAUD membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (QS. 2:251).

    Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami anugerahkan (kitab) ZABUR (kepada) Daud (QS. 17:55).

    Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan (melalui) lisan (titah penguasa) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas (QS. 5:78).

    Kesimpulan: Karena umat manusia semakin banyak sehingga tingkat peradabannya pun semakin maju dan tinggi sehingga manusia harus mempunyai sistem untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera serta adanya sistem demokrasi, politik dan kekuasaan. Allah Ta’ala menuntun Rasul dan Nabi-Nya Daud As sebagai tokoh pertama yang dianugerahi sebagai kepala negara dan pemerintahan memberikan contoh menerapkan ekonomi, hukum, menjaga kelestarian lingkungan, keamanan dan mempunyai tentara yang kuat dsb. disamping beliau sebagai tugas utamanya dibidang kenabian dan kerasulannya.

    Wajar sekali jika Nabi Daud As dianugerahi ilmu, keahlian, hikmat dan kitab suci pertama Zabur. Prinsip-prinsip utama dalam menerapkan sistem demokrasi, politik dan kekuasaan a.l. tertuang dalam QS. 38:17-29 selain ayat-ayat di atas. Kewenangan sebagai khalifah ini diteruskan pada anaknya Nabi dan Rasul Sulaiman As. selain mengemban tugas utamanya sebagai rasul dan nabi. Misi in terus berlanjut sampai kepada era Nabi Isa As sebagai pewaris terakhir tahta dari Bani Israilnya walaupun tidak kuasa sampai memagang tampuk kekuasaan dibidang demokrasi, politik dan kekuasaannya.

    Pada akhirnya wujud konkrit dari sistem yang telah dicontohkan oleh Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As maupun nabi-nabi lainnya adalah pada misi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah dan penutup para nabi (QS. 33:40) sekaligus sebagai khalifah yang dianugerahi tuntunan kitab suci terakhir, Al Quran.

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. 33:40).

    Al Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW merupakan tuntunan wahyu yang paling sempurna dibandingkan dengan kitab suci terdahulu karena memang merupakan kompilasi dari kitab suci Zabur, Taurat dan Injil. Kalau pada kitab-kitab suci terdahulu belumlah memuat identitas atau nama agama-Nya maka dalam Al Quran termuat deklarasi langsung oleh Tuhan, Allah Ta’ala tentang nama dan identitas suatu ad din, millah atau agama yakni AL ISLAM.

    “….. Pada hari ini orang-orang KAFIR telah putus asa (mencoba) untuk (merusak dan mengalahkan) AGAMAmu (Hai Muhammad), sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai ISLAM itu jadi agama (satu-satunya) bagimu. …” (QS. 5:3).

    Reply

  35. elfan
    Apr 29, 2015 @ 09:56:16

    KHALIFAH ATAU PENGUASA: PEWARIS UTAMA DARI MISI KENABIAN MUHAMMAD SAW

    Bagian 3 dari tiga tulisan

    Pengertian khalifah (3): Manusia biasa sebagai khalifah dan pembawa misi kenabian

    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur (QS. 3:144).

    Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa-penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 6:165).

    Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di muka bumi. Barang- siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (QS. 35:39).

    Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. 4:59).

    Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. 3:32).

    Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan (QS. 4:14)

    Ayat-ayat di atas di dukung dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:

    42. 118/3196. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu ‘anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang besabda: Bani Isra’il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah (ya bisa raja, sultan, presiden, kanselir, gubernur, bupati atau walikota) yang banyak jumlahnya. Para shahabat bertanya; Apa yang baginda perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab: Penuihilah bai’at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka.

    Dan katakanlah (Hai Muhammad): “Bekerjalah (sesuai dengan tanggungjawab) kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. 9:105).

    Yang penting bahwa peran para khalifah yang berasal dari kalangan manusia biasa yang bukan sebagai nabi dan rasul diharapkan oelah Allah dan Muhammad SAW jangan sampai seperti yang disampaikan Nabi kehadirat Tuhan, Allah sbb.: Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. 9:30)

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan (atau menyampaikan) kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa (patuh dan taat pada tuntunan) dan mengadakan perbaikan (atas kesalahannya), tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. 7:35)

    Hakikat pengertian Khalifah

    Siapa saja yang ‘ngaku’ MUSLIM lalu dianugerahi dianya sebagai ‘ORANG NOMOR SATU’ atau penguasa maka dia adalah ‘sang’ KHALIFAH bahkan sesuai dengan hadits di atas beliau juga pembawa misi kenabian disamping peran ulama. Orang nomor satu atau penguasa atau khalifah itu, apakah ‘dia’nya berlebelkan sebagai presiden, raja atau kanselir dll. dan apakah dia berkuasa di negara bernama Islam atau tidak atau negerinya itu bermerek khilafah atau tidak. Tetapi yang mutlak sang tokoh orang nomor satu tetap harus mengacu pada Al Quran dan As Sunnah.

    Selanjutnya soal si tokoh ini mau atau tidak mau menerapkan syariat Islam ataukah mampu atau tidak mampu menerapkan syariat Islam ya itu mutlak adalah tanggungjawabnya sendiri karena dia sendirilah yang berkeinginan untuk menjadi orang tokoh nomor satu disuatu atau didalam wilayah kekuasaannya. Dalam menyelenggarakan tugas-tugas negara dan pemerintahan adalah wajib baginya untuk merujuk pada prinsip-prinsip Al Quran a.l. seperti QS. 38:26 dan 35:39 di atas seperti peran Nabi Daud As atau nabi dan rasul lainnya terutama di era kini ialah hadits Nabi Muhammad SAW.

    Wallahu a’lam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

IP
My Popularity (by popuri.us)
%d bloggers like this: