Hijrah : A Celebration of Light

By Tarek A. Ghanem

The time to celebrate is due. The Hijrah, or emigration from Makkah, of the Prophet Muhammad—beloved by more than a billion Muslims worldwide—has come to remind the tired souls of Muslims that their faith is not only luminous light that takes them out of the darkness of misguidance; the more faith, the more light in the hearts. Writing about the Hijrah as a Muslim, I often find myself at a loss for words to express my feelings.

Our celebration is that of optimism. Ours is a state of optimism which, in nature, is the warmth and liveliness with which dark objects receive illumination; its poem—even in a warmth and liveliness with which dark objects receive illumination; its poem—even in a literary sense—is related to the sparkling and thrill of the breaking of light: More

Hijrah, Melangkah ke Arah yang Lebih Baik

Senin, 14 Desember 2009 | 21:41

Kata hijrah, berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti berpindah, meninggalkan, berpaling, dan tidak memperdulikan lagi. Menurut istilah , hijrah ialah kepindahan Nabi Muhammad SAW dari kota Makkah ke Yatsrib pada tahun ke-13 kenabian.

Sebagai seorang rasul, Nabi Muhammad SAW harus berhadapan dengan masyarakat jahiliyah di Makkah untuk menyampaikan risalahnya. Mereka memegang nilai-nilai kepercayaan yang sebenarnya merupakan ajaran yang diwarisakan Nabi Ibrahim AS, tapi telah mengalami berbagai penyimpangan dari nilai-nilai yang sebenarnya yang dibawa Nabi Ibrahim. Padahal ajaran dasar setiap rasul, sejak Nabi Adam AS, termasuk Ibrahim AS adalah nilai-nilai tawhid ( keesaan Allah ).
More

IP
My Popularity (by popuri.us)